museum

Sabtu, 06 September 2014



MERENUNGKAN HERCULES PUTRA ZEUS


Menyaksikan dan menyimak “Hercules” pahlawan dongeng dan mitos Yunani dalam penyutradaraan Brett Ratner, seperti menghidupkan nuansa tersendiri dalam pencernaan saya. Film yang diluncurkan bulan Juli 2014 lalu yang konon menghabiskan biaya kira-kira 1 trilyun rupiah itu, dan sudah mencapai box office di bioskop-bioskop kota besar dunia lebih dari 3 trilyun, bagi saya merupakan hiburan yang asyik dan lumayan menyegarkan pikiran. Setting dan apa saja latar belakang yang menjadikan logika setampak mata, persis dan indah belaka, seperti dimaksudkan sebagaimana konteks naskahnya barangkali di era zaman 387 SM.

Sekalipun bersifat fantastis, namun adaptasi sebagai logika dalam penceritaan skenario naskah film itu, menurut saya masih dan senantiasa dalam koridor pemahaman yang wajar, bahwa dongeng sebagai kemustahilan yang hendak dipahamkan kepada penyimaknya, bisa saja diyakini sebagai mungkin atau niscaya. Karena halusnya budi, bukankah bahasa universal bagi siapa pun manusia dalam gerak-gerak carinya hendak mencapai cakrawala?

Bahwa, sebagaimana diketahui secara umum, Hercules dalam penceritaan yang lazim, adalah putra Zeus yang agung, terlahir dari rahim seorang putri, manusia bumi bernama Alcmene. Yang dimaksudkan lahir karena sebuah zaman di bumi yang dzalim dan masif dalam sifatnya diakukan oleh manusia tiran yang hiperbola dan gemar dalam arogansinya berteriak, “aku tak takut dengan kuasa pada dewa. Bukankah sejarah mencatat, dalam derap kakiku, tangan ini mampu meregam dunia?”

Dalam pengertian Hercules sebagai anak setengah dewa, yang hebat pernah menyelesaikan baktinya yang legendaris yaitu dua belas tugas yang imposible layaknya itu, lebih karena sirik Dewi Hera belaka, permaisuri mahadewa Zeus kepada hasrat sang suami karena memilih Alcmene, manusia bumi, sebagai caranya untuk mewariskan benih kepahlawanan. Ihwal dan klausul ini yang hendak dijadikan celah untuk mencerna logika kisah dalam film ini. Apakah benar sosok Hercules yang pahlawan itu karena sebuah kehendak dari Zeus yang agung sebagaimana diyakini sebagai cerlang mitos menjadi unsur dongeng?

Kehebatan dan sepak terjang Hercules (Dwayne Johnson) adalah keluguan semata, karena citra yang hendak dipersembahkan kepada kemasyuran sang raja  Eurystheus (Joseph Fiennes). Namun makin kemasyuran yang setiapkali dilakukan Hercules menjadikan sang raja mengiri dan hendak menyingkirkan sang pahlawan yang perkasa tapi lembut budi itu, menjadikan inti kisah yang mendramaturgi dari awal film hingga klimaks. Sebuah fitnah yang dilesakkan untuk membutakan arah kepercayaan bagi penalaran siapa pun, bahwa Hercules telah  gila dan menyebabkan ia sendiri membunuh istrinya  Megara, dan bahkan ketiga anak mereka yang sangat disayangi.

Amphiaraus yang popular disebutkan ibaratnya pujangga atau nujum waskita kiranya penyaksi dari keseluruhan kisah dalam film ini. Suaranya yang bercerita di tengah-tengah adegan berlangsung menjadi narasi yang menjelaskan apa saja menjadi latar belakang dalam alur penceritaan film ini. Dalam konteks mitos Yunani sendiri, Amphiaraus adalah salah satu pahlawan perang Troya yang cemerlang. Dan sebuah cerlang kreatifitas belaka dalam skenario ini, ia dimunculkan sezaman dengan Hercules. Sezaman pula dengan Tydeus (Aksel Hennie), sang prajurit perkasa, yang digambarkan dalam film ini liar sebagaimana memiliki sifat binatang, tapi unik karena memiliki kesetiaan kepada Hercules, melebihi kesetiaan siapa pun. Demikian pula dengan Atalanta (Ingrid bolso Berdal) seorang putri perkasa, sang  pemanah, yang menemukan keluarga dalam perjalanan hidupnya, tak ingin dipisahkan dalam duka cita mengiringi perjalanan hidup Hercules. Dan satu lagi pahlawan yang mahir dalam sebutan si pisau lempar, Autolycus (Rufus Sewell), yang mudah goyah karena harta dalam pencariannya, tapi kemudian mudah goyah pula karena selalu menimbang gairah kepahlawanan Hercules. Serta yang paling unik dan fenomenal, adalah hadirnya, sosok keponakan Hercules bernama Iolaus (Reece Ritchie), sang pendongeng. Yang paling lemah barangkali dibandingkan yang lain dalam kesaktian kanuragan, tapi memiliki kepandaian mengolah kata-kata, menjadikan kekuatan untuk menyemangati dan pula menjatuhkan mental bagi yang hatinya busuk.

Bahwa apa saja menjadi pemahaman dan keyakinan siapa pun mendengar kisah Hercules yang mirip legenda itu adalah hasil dari ocehan Iolaus sebagai bahan dongeng. Sehingga menjadi menarik untuk mengikuti alur film ini dari awal sampai akhir, untuk kiranya mendapatkan jawaban, benarkah, Hercules yang membebaskan apa saja pembelengguan yang dilakukan oleh setiap tirani yang ditanamkan dan mekarkan manusia bebal yang haus dalam mimpinya ingin menjadi tuhan adalah keajaiban semata-mata karena ia putra Zeus yang terberkati?

Kesatuan gerak keenam sosok protagonis dalam film ini layaknya fantasi heroisme, ciri dan khas dunia hayal saja. Memiliki keunikan dan kedahsyatan dengan cara masing-masing dalam andil menyelesaikan setiap perkara. Kelima tokoh cabutan yang heroik dan berkobar dalam semangatnya karena ikatan sejarahnya yang bersentuhan dengan Hercules, menurut saya adalah ide skenario yang cerdas untuk mengakali sebuah sudut pandang dalam unsur film, khususnya dalam fungsinya sebagai media hiburan.

“Tak ada cerita yang benar tentang dongeng keajaiban manusia,” seru Hercules, “akulah Hercules, memiliki sendiri keyakinanku, siapa yang semena-mena, selagi masih bernama manusia dan makhluk sejenisnya akan kulawan, jika ini mampu membawaku berguna dalam menjalani keyakinan dalam hidup ini.”

Alkisah suatu ketika, Hercules dan kelima ksatrianya didekati oleh putri Ergenia (Rebecca Ferguson), atas nama ayahnya, Raja Cotys (John Terluka), yang menginginkan mereka melatih tentara Kerajaan Thrace untuk mempertahankan kerajaan dari rongrongan panglima perang haus darah Rheseus (Tobias Santelmann). Hercules menerima tantangan itu, setelah ia dan anak buahnya ditawarkan berat emas yang menggiurkan. Enam pendekar pengelana itu pun disambut oleh Raja Cotys dan Sitacles (Peter Mullan), pemimpin tentara Thracian. Setelah pelatihan tentara, Hercules dan anak buahnya membawa mereka ke dalam pertempuran melawan para barbar yang misterius yang ganas suka menyerang dan membinasakan warga pedesaan. Setelah pasukan barbar dikalahkan, Hercules dan Sitacles menghadapi Rheseus dan tentaranya, yang diyakini dalam ocehan Iolaus sebagai centaurus, yaitu mitos manusia berbadan kuda. Rheseus beserta sejumlah tentara yang 3 kali jumlahnya dari tentara Thrace pun dikalahkan dengan cerdik, berkat kepiawaian Hercules dan lima pendekarnya bersiasat. Kepala pemberontak itu pun dibawa kembali ke Thrace sebagai tahanan, di mana dia disiksa dan dipermalukan. Ketika di dalam perjamuan, Ergenia jatuh iba kepadanya, segera hal itu menjadikan empati dan penasaran Hercules untuk ingin tahu apa sebabnya?

”Rheseus tidak bersalah. Ini semua karena semata ambisi dan siasat Cotys untuk memperluas kerajaannya,” aku Ergenia, “dan bahkan tahta yang sekarang dikuasai ini adalah milik suamiku yang kemudian mati terbunuh.”

“Kenapa engkau selama ini diam saja,” bentak Hercules.

“Ini semua demi Arius, anakku,” jawabnya, “Cotys ayahku sangat bengis demi mewujudkan ambisinya. Ia selalu mengancam, jika kuceritakan ihwal cerita ini, Arius akan dibunuhnya.”

Begitulah, dimensi klimaks dalam film ini, pergolakan kejiwaan Hercules sebagai sang perkasa yang nyata halus budinya. Membela dan berjuang sampai tetes darah terakhir, setia kawan dengan siapapun yang dianggapnya sejati dalam sikapnya meyakini kebenaran. Bahkan membawa kematian Tydeus salah satu ksatria sohibnya yang gagah berani menjelang maut hanya karena berkorban demi menyelamatkan nyawa Arius, bocah pewaris tahta Thrace. Hingga tumbang dan beslah kejahatan Cotys yang ternyata bersekutu dengan  Eurystheus, sang raja yang selama ini dibelanya, yang ternyata adalah biang sesungguhnya kematian Megara, istrinya dan ketiga anaknya. Sewaktu Hercules dan keluarganya mengunjungi raja, ia diberi minuman beracun. Lalu Eurystheus melepaskan tiga anjing serigalanya yang besar dan ganas untuk merejam dan mencacah-cacah sosok Megara dan ketiga anaknya.

“Hercules! Hercules! Hercules! ....”

Yel-yel dan puji-pujian ribuan prajurit Thrace yang tadinya memerangi Hercules karena perintah Raja Cotys, hingga membentuk ketegangan yang luar biasa pada pencernaan saya, pada akhirnya berubah pikiran. Ada dalam nalar dan nurani para prajurit, barangkali, kegagahan putra Zeus itu bukan mustahil. Ingin mereka mentahkan bahwa keajaiban itu semata-mata karena gaib disebabkan ia makhluk setengah dewa. Bukan itu! Bukan itu rasanya, yang membentuk keberpihakan itu. Karena barangkali lebih disebabkan, karena keluguan dalam setiap kata-kata Hercules yang sehati dan sejati melatari setiapkali gerak dan perjuangannya. Hati prajurit yang mana yang tak tergetar akan contoh yang nyata itu. Hati manusia yang mana yang tak lantas berpihak menjadi pegangannya. Ia bukan anak dewa. Tapi Hercules adalah manusia yang jujur dan selalu tergerak hatinya bilamana menyaksikan kebaikan dilukai oleh kebusukan pikir dan kesemenaan rezim manusia berkuasa. Karena Herculeslah para prajurit Thrace mengenal makna kesadaran, keberanian dan bagaimana seharusnya berperang melawan musuh. Jika bukan karena itu, bagaimana mungkin mereka menang berperang seaktu mengalahkan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat? Bukankah Hercules selama ini menjadi guru mereka?

”Ia manusia yang jujur dan lugu, sebagaimana kita,” jelas narasi  Amphiaraus, sang pujangga mengakhiri film ini, ”karenanya, kita pantas mencintainya.”

Pondokaren
6 September 2014
: 12.00