museum

Sabtu, 06 September 2014



MERENUNGKAN HERCULES PUTRA ZEUS


Menyaksikan dan menyimak “Hercules” pahlawan dongeng dan mitos Yunani dalam penyutradaraan Brett Ratner, seperti menghidupkan nuansa tersendiri dalam pencernaan saya. Film yang diluncurkan bulan Juli 2014 lalu yang konon menghabiskan biaya kira-kira 1 trilyun rupiah itu, dan sudah mencapai box office di bioskop-bioskop kota besar dunia lebih dari 3 trilyun, bagi saya merupakan hiburan yang asyik dan lumayan menyegarkan pikiran. Setting dan apa saja latar belakang yang menjadikan logika setampak mata, persis dan indah belaka, seperti dimaksudkan sebagaimana konteks naskahnya barangkali di era zaman 387 SM.

Sekalipun bersifat fantastis, namun adaptasi sebagai logika dalam penceritaan skenario naskah film itu, menurut saya masih dan senantiasa dalam koridor pemahaman yang wajar, bahwa dongeng sebagai kemustahilan yang hendak dipahamkan kepada penyimaknya, bisa saja diyakini sebagai mungkin atau niscaya. Karena halusnya budi, bukankah bahasa universal bagi siapa pun manusia dalam gerak-gerak carinya hendak mencapai cakrawala?

Bahwa, sebagaimana diketahui secara umum, Hercules dalam penceritaan yang lazim, adalah putra Zeus yang agung, terlahir dari rahim seorang putri, manusia bumi bernama Alcmene. Yang dimaksudkan lahir karena sebuah zaman di bumi yang dzalim dan masif dalam sifatnya diakukan oleh manusia tiran yang hiperbola dan gemar dalam arogansinya berteriak, “aku tak takut dengan kuasa pada dewa. Bukankah sejarah mencatat, dalam derap kakiku, tangan ini mampu meregam dunia?”

Dalam pengertian Hercules sebagai anak setengah dewa, yang hebat pernah menyelesaikan baktinya yang legendaris yaitu dua belas tugas yang imposible layaknya itu, lebih karena sirik Dewi Hera belaka, permaisuri mahadewa Zeus kepada hasrat sang suami karena memilih Alcmene, manusia bumi, sebagai caranya untuk mewariskan benih kepahlawanan. Ihwal dan klausul ini yang hendak dijadikan celah untuk mencerna logika kisah dalam film ini. Apakah benar sosok Hercules yang pahlawan itu karena sebuah kehendak dari Zeus yang agung sebagaimana diyakini sebagai cerlang mitos menjadi unsur dongeng?

Kehebatan dan sepak terjang Hercules (Dwayne Johnson) adalah keluguan semata, karena citra yang hendak dipersembahkan kepada kemasyuran sang raja  Eurystheus (Joseph Fiennes). Namun makin kemasyuran yang setiapkali dilakukan Hercules menjadikan sang raja mengiri dan hendak menyingkirkan sang pahlawan yang perkasa tapi lembut budi itu, menjadikan inti kisah yang mendramaturgi dari awal film hingga klimaks. Sebuah fitnah yang dilesakkan untuk membutakan arah kepercayaan bagi penalaran siapa pun, bahwa Hercules telah  gila dan menyebabkan ia sendiri membunuh istrinya  Megara, dan bahkan ketiga anak mereka yang sangat disayangi.

Amphiaraus yang popular disebutkan ibaratnya pujangga atau nujum waskita kiranya penyaksi dari keseluruhan kisah dalam film ini. Suaranya yang bercerita di tengah-tengah adegan berlangsung menjadi narasi yang menjelaskan apa saja menjadi latar belakang dalam alur penceritaan film ini. Dalam konteks mitos Yunani sendiri, Amphiaraus adalah salah satu pahlawan perang Troya yang cemerlang. Dan sebuah cerlang kreatifitas belaka dalam skenario ini, ia dimunculkan sezaman dengan Hercules. Sezaman pula dengan Tydeus (Aksel Hennie), sang prajurit perkasa, yang digambarkan dalam film ini liar sebagaimana memiliki sifat binatang, tapi unik karena memiliki kesetiaan kepada Hercules, melebihi kesetiaan siapa pun. Demikian pula dengan Atalanta (Ingrid bolso Berdal) seorang putri perkasa, sang  pemanah, yang menemukan keluarga dalam perjalanan hidupnya, tak ingin dipisahkan dalam duka cita mengiringi perjalanan hidup Hercules. Dan satu lagi pahlawan yang mahir dalam sebutan si pisau lempar, Autolycus (Rufus Sewell), yang mudah goyah karena harta dalam pencariannya, tapi kemudian mudah goyah pula karena selalu menimbang gairah kepahlawanan Hercules. Serta yang paling unik dan fenomenal, adalah hadirnya, sosok keponakan Hercules bernama Iolaus (Reece Ritchie), sang pendongeng. Yang paling lemah barangkali dibandingkan yang lain dalam kesaktian kanuragan, tapi memiliki kepandaian mengolah kata-kata, menjadikan kekuatan untuk menyemangati dan pula menjatuhkan mental bagi yang hatinya busuk.

Bahwa apa saja menjadi pemahaman dan keyakinan siapa pun mendengar kisah Hercules yang mirip legenda itu adalah hasil dari ocehan Iolaus sebagai bahan dongeng. Sehingga menjadi menarik untuk mengikuti alur film ini dari awal sampai akhir, untuk kiranya mendapatkan jawaban, benarkah, Hercules yang membebaskan apa saja pembelengguan yang dilakukan oleh setiap tirani yang ditanamkan dan mekarkan manusia bebal yang haus dalam mimpinya ingin menjadi tuhan adalah keajaiban semata-mata karena ia putra Zeus yang terberkati?

Kesatuan gerak keenam sosok protagonis dalam film ini layaknya fantasi heroisme, ciri dan khas dunia hayal saja. Memiliki keunikan dan kedahsyatan dengan cara masing-masing dalam andil menyelesaikan setiap perkara. Kelima tokoh cabutan yang heroik dan berkobar dalam semangatnya karena ikatan sejarahnya yang bersentuhan dengan Hercules, menurut saya adalah ide skenario yang cerdas untuk mengakali sebuah sudut pandang dalam unsur film, khususnya dalam fungsinya sebagai media hiburan.

“Tak ada cerita yang benar tentang dongeng keajaiban manusia,” seru Hercules, “akulah Hercules, memiliki sendiri keyakinanku, siapa yang semena-mena, selagi masih bernama manusia dan makhluk sejenisnya akan kulawan, jika ini mampu membawaku berguna dalam menjalani keyakinan dalam hidup ini.”

Alkisah suatu ketika, Hercules dan kelima ksatrianya didekati oleh putri Ergenia (Rebecca Ferguson), atas nama ayahnya, Raja Cotys (John Terluka), yang menginginkan mereka melatih tentara Kerajaan Thrace untuk mempertahankan kerajaan dari rongrongan panglima perang haus darah Rheseus (Tobias Santelmann). Hercules menerima tantangan itu, setelah ia dan anak buahnya ditawarkan berat emas yang menggiurkan. Enam pendekar pengelana itu pun disambut oleh Raja Cotys dan Sitacles (Peter Mullan), pemimpin tentara Thracian. Setelah pelatihan tentara, Hercules dan anak buahnya membawa mereka ke dalam pertempuran melawan para barbar yang misterius yang ganas suka menyerang dan membinasakan warga pedesaan. Setelah pasukan barbar dikalahkan, Hercules dan Sitacles menghadapi Rheseus dan tentaranya, yang diyakini dalam ocehan Iolaus sebagai centaurus, yaitu mitos manusia berbadan kuda. Rheseus beserta sejumlah tentara yang 3 kali jumlahnya dari tentara Thrace pun dikalahkan dengan cerdik, berkat kepiawaian Hercules dan lima pendekarnya bersiasat. Kepala pemberontak itu pun dibawa kembali ke Thrace sebagai tahanan, di mana dia disiksa dan dipermalukan. Ketika di dalam perjamuan, Ergenia jatuh iba kepadanya, segera hal itu menjadikan empati dan penasaran Hercules untuk ingin tahu apa sebabnya?

”Rheseus tidak bersalah. Ini semua karena semata ambisi dan siasat Cotys untuk memperluas kerajaannya,” aku Ergenia, “dan bahkan tahta yang sekarang dikuasai ini adalah milik suamiku yang kemudian mati terbunuh.”

“Kenapa engkau selama ini diam saja,” bentak Hercules.

“Ini semua demi Arius, anakku,” jawabnya, “Cotys ayahku sangat bengis demi mewujudkan ambisinya. Ia selalu mengancam, jika kuceritakan ihwal cerita ini, Arius akan dibunuhnya.”

Begitulah, dimensi klimaks dalam film ini, pergolakan kejiwaan Hercules sebagai sang perkasa yang nyata halus budinya. Membela dan berjuang sampai tetes darah terakhir, setia kawan dengan siapapun yang dianggapnya sejati dalam sikapnya meyakini kebenaran. Bahkan membawa kematian Tydeus salah satu ksatria sohibnya yang gagah berani menjelang maut hanya karena berkorban demi menyelamatkan nyawa Arius, bocah pewaris tahta Thrace. Hingga tumbang dan beslah kejahatan Cotys yang ternyata bersekutu dengan  Eurystheus, sang raja yang selama ini dibelanya, yang ternyata adalah biang sesungguhnya kematian Megara, istrinya dan ketiga anaknya. Sewaktu Hercules dan keluarganya mengunjungi raja, ia diberi minuman beracun. Lalu Eurystheus melepaskan tiga anjing serigalanya yang besar dan ganas untuk merejam dan mencacah-cacah sosok Megara dan ketiga anaknya.

“Hercules! Hercules! Hercules! ....”

Yel-yel dan puji-pujian ribuan prajurit Thrace yang tadinya memerangi Hercules karena perintah Raja Cotys, hingga membentuk ketegangan yang luar biasa pada pencernaan saya, pada akhirnya berubah pikiran. Ada dalam nalar dan nurani para prajurit, barangkali, kegagahan putra Zeus itu bukan mustahil. Ingin mereka mentahkan bahwa keajaiban itu semata-mata karena gaib disebabkan ia makhluk setengah dewa. Bukan itu! Bukan itu rasanya, yang membentuk keberpihakan itu. Karena barangkali lebih disebabkan, karena keluguan dalam setiap kata-kata Hercules yang sehati dan sejati melatari setiapkali gerak dan perjuangannya. Hati prajurit yang mana yang tak tergetar akan contoh yang nyata itu. Hati manusia yang mana yang tak lantas berpihak menjadi pegangannya. Ia bukan anak dewa. Tapi Hercules adalah manusia yang jujur dan selalu tergerak hatinya bilamana menyaksikan kebaikan dilukai oleh kebusukan pikir dan kesemenaan rezim manusia berkuasa. Karena Herculeslah para prajurit Thrace mengenal makna kesadaran, keberanian dan bagaimana seharusnya berperang melawan musuh. Jika bukan karena itu, bagaimana mungkin mereka menang berperang seaktu mengalahkan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat? Bukankah Hercules selama ini menjadi guru mereka?

”Ia manusia yang jujur dan lugu, sebagaimana kita,” jelas narasi  Amphiaraus, sang pujangga mengakhiri film ini, ”karenanya, kita pantas mencintainya.”

Pondokaren
6 September 2014
: 12.00



Kamis, 15 Mei 2014

MENCARI APA DI MUSEUM



Hening dan lengang, dan dipenuhi benda-benda kuno sebagai perbendaharaan koleksi, begitulah suasana museum selepas pandang dinikmati publik. Terhadap keberadaan museum dan kekayaan yang tersimpan di dalamnya, dalam dinamika keseharian Indonesia memiliki kandungan kisahnya tersendiri yang unik. Benda-benda yang bisu dan usang, bukankah begitu koleksi museum itu kerapkali dianggap? Berbagai kalangan, latar belakang, dan tingkat usia, datang dan pergi menjadi pengunjungnya. Tak selalu sama memiliki tujuan dan beda pula motivasi sewaktu mendatanginya. Bahkan menjadikan catatan yang aktual dan penting jika harus ditelaah lebih jauh untuk mendapatkan keterangan menyoal esensi : mencari apa sebenarnya di museum?  

Mata yang menatap, sejenak dan sekilas saja. Seperlunya dan secepat itu ruang demi ruang dijelajahi. Sesekali ada yang matanya melotot demi menemukan obyek yang sekiranya menarik perhatian, namun toh, tak cukup ketertarikan itu menumbuhkan minat untuk ingin tahu lebih banyak, kenapa dan ada apa, hingga benda itu mengusik perhatian.  Bahkan abai saja sikapnya, tak menimbulkan keinginan membaca secara serius dan teliti keterangan yang tertempel. Bukankah dari data tersebut setidaknya memberikan pengetahuan tentang latar belakang dan keberadaan benda itu. Pun tak pula antuasiasme itu timbul hingga menggerakkan niatnya mencari petugas museum, sekedar untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan terhadap apa yang menjadikan ihwal ketertarikan itu.

Entahlah, bagi yang tak cukup memiliki bekal untuk mencari atau hendak menemukan sesuatu, barangkali kehadiran seseorang ke museum bisa jadi iseng belaka atau sekedarnya untuk mengisi waktu. Dengan melihat-lihat benda-benda aneh yang tak diketemukan aneka bentuk dan wujudnya dan seusang itu pernah dijumpainya di keseharian, siapa tahu akan menemukan kawan senasib, yang kebetulan bertemu pada waktu yang sama di tempat itu, siapa tahu pula berjodoh untuk sekedar sama-sama mencairkan galau. Atau jangan-jangan justru terdorong oleh keterpaksaan, hanya karena sebuah tugas tertentu yang diharuskan oleh gurunya di sekolah. Jika tak membuat laporan berupa resume atau catatan singkat tentang pengalaman pernah mendatangi museum, maka tak akan mendapatkan nilai plus. Pun sebuah pameo yang masih saja dipercayai sementara orang, bahwa jika belum mengunjungi sebuah museum, katanya, belum lengkap  rasanya menjadikan kisah hebat dalam sebuah catatan biografi perjalanan hidup. Maka, berposelah kemudian dengan gaya yang sebagus mungkin menurutkan selera masing-masing untuk diabadikan ke dalam gambar-gambar foto. Dengan foto-foto yang berlatar belakang tempat dan benda-benda unik museum, setidaknya akan menjadi bukti yang autentik dan menghidupkan klaim atau pengakuan atas pengalaman hidup yang pernah dijalani.

Museum adalah tempat yang menyimpan benda-benda bersejarah. Museum adalah cermin untuk melihat tingkat peradaban sebuah bangsa. Apa yang terdapat dan menjadi isi sebagai koleksi museum bisa saja ditandai sebagai bukti tentang adanya nilai-nilai yang membentuk citra. Bahwa sebuah bangsa yang memiliki banyak produk dan tercermin dari benda-benda yang terpajang, bisa dimaknakan bangsa tersebut memiliki kemegahan yang tersendiri. Yaitu bangsa kreatif dan bangsa yang memiliki peradaban yang unggul. Halusnya ukiran atau sentuhan seni yang membentuk wujud-wujudnya sebagai relief candi, prasasti, arca, perhiasan, busana, perabotan, wayang, topeng, lukisan, alat-alat musik, kitab-kitab sastra dan kelengkapan hidup lainnya yang menjadikan obyek dan tertandakan dalam catatan sejarah berasal dari abad-abad lalu, seperti pula kesatuan yang membuktikan citra, rasa dan halusnya budi nenek moyang dari zaman lampau. Seni adalah hiburan batin. Namun bisa juga seni dimaknakan alat bantu atau sarana untuk menghaluskan budi pekerti. Maka si seniman yang berkarya dan membuat keindahan itu, bisa disebutkan memiliki keagungannya yang tersendiri. Jika sebuah bangsa memiliki banyak produk kreasi yang indah dan berbobot seni, maka tak ayal bangsa tersebut adalah bangsa besar.

Benda-benda yang terdapat dalam museum adalah bukti-bukti dari jejak-jejak sejarah yang berkandung pula unsur mitologi sebagai kisah-kisah tahyul dahulu kala dan adanya dalam perwujudan tertentu bahkan diyakini sebagai inisiasi.  Dari zaman ke zaman, terlahir sebagai dongeng dan diyakini mengandung filosofi yang tinggi ikut membentuk pola pikir masyarakatnya. Senada dengan apa yang dituliskan bapak bangsa Indonesia, Mohammad Hatta, dalam sebuah karya buku “Alam Pikiran Yunani”, bahwa dongeng atau tahyul yang dipusakakan dari nenek moyang itu menimbulkan adat dan kebiasaan hidup, yang menjadi cermin  jiwa bangsa yang memakainya. Di mata orang Yunani pada zaman lampau, satu pokok yang ingin diyakini sebagai cara mengungkapkan sebuah kebenaran adalah “philosophia” yang berarti cinta akan pengetahuan.

Pun, sebagaimana ditulis dalam buku, “Jurnal Penyair - Rendra”, penyair besar bangsa Indonesia, WS. Rendra, dalam catatan perjalanannya berpentas membacakan sajak-sajaknya di kota-kota besar Eropa, Afrika, Asia, Amerika dan Australia, selalu menyempatkan  diri untuk singgah dan mengunjungi museum di kota setempat.

”Museum itu memegang peranan penting dalam merumuskan hubungan antar manusia,” begitu kata Rendra, “bagi saya museum berusaha menjawab pertanyaan: Siapakah aku ini dalam hubungannya dengan orang lain? Tidak semata-mata hanya menjawab pertanyaan siapakah aku dalam hubungannya dengan alam semata? Jelas bahwa pengaruh antropologi dan psikologi sangat menonjol di dalam cara pendekatan dan penilaian terhadap benda-benda di museum.”

Di museum, jelas terdapat bahan-bahan yang dibutuhkan seorang seniman sebagai ide dari bakal karyanya. Sebuah pengetahuan yang mahal dan penting untuk kemudian menjadikan lagi karya baru yang adicipta. Tidak saja, unsur-unsur pisik benda yang terpajang sebagai benda koleksi, namun juga unsur-unsur yang melatari benda tersebut tercipta. Sistem kehidupan, suasana dan banyak nuansa yang bisa digali sebagai cara untuk memahami keadaan sosial dan budaya pada waktu benda itu dicipta. Dengan begitu, sekali lagi menunjukkan kejelasan, bahwa dari mengamati dan meneliti sebaik-baiknya benda-benda koleksi museum, seorang kreator akan menemukan pengetahuan yang tak terhingga dan tak ternilai harganya. Yang sangat diperlukan bahan-bahan itu sebagai caranya mengaktualisasi ide-ide itu untuk menjilmakan karya-karya seni bermutu tinggi yang akan menandai ada dan hadirnya di kekinian zaman periode hidupnya.

Bagi bangsa Indonesia yang laju pertumbuhan dan perkembangan sosial dan budayanya beriringan dengan derak globalisasi, tak dipungkiri bahwa enkulturasi bangsa asing telah jauh menjadikan dilema dan friksi-friksi yang tajam di tengah masyarakatnya. Pola dan perilaku yang konsumtif cenderung bergerak mendekati kamuflase dalam konsep modernitas. Etos dan elan mencipta yang diwariskan oleh leluhurnya, seperti aus dihembus angin global. Begitu jelas, kecenderungan publik kita kiranya, menunjukkan minat dan ketertarikan yang begitu besar terhadap apa saja berbau luar negeri. Padahal jika harus disimak dan dinilaikan, betapa indah dan hebat, apa saja benda-benda produksi nusantara kita, jelas terlihat di setiap museum yang terdapat di seantero kota di Indonesia. Begitupun, lebih dari 140.000 benda koleksi Museum Nasional Republik Indonesia, museum kebanggaan kita yang terdapat di ibukota, takkah menunjukkan benda-benda masa lalu itu sebagai karya-karya kreasi yang unggul, impresif dan mengagumkan mewakili zamannya?

Sudah semestinya pula, Museum Nasional Republik Indonesia, begitupun museum-museum lainnya yang tersebar itu di kota-kota besar Indonesia itu dijadikan laboratorium aktif bagi para intelektual bangsa – para pelajar dan mahasiswa --  untuk menemukan data-data penting dan berguna bagi perkembangan penelitian karya ilmiahnya. Ide-ide cemerlang hasil dari menyerap kandungan materinya niscaya menjadikan sumbangsih pemikiran bagi bangsa untuk tumbuh dan bergerak mengindahkan dinamika di kancah universal.

Sehingga senada dan senafas dengan kredo Rendra, bahwa, ” kisah masa lampau adalah api masa kini”, maka di dalam kelengangan museum yang menyimpan benda-benda bisu dari masa lampau itu, jika sebaik-baiknya digali dan diambil saripatinya sebagai inti, niscaya akan menerbitkan gairah untuk bangkit, berdaya dan unggul karena mampu mencipta sendiri dan berdikari. Ide dan gagasan yang orisinil milik bangsa sendiri dan dikaryakan kembali dalam keindahan seni budaya dan karya-karya modern yang berasal dan berakar dari adicipta leluhur dan nenek moyang kita, bukankah ini tantangan? Memang benar, bahwa benda-benda itu bisu, kusam dan kuno, namun oleh penglihatan dan pembacaan seorang kreator yang awas dan bijak, niscaya akan bergerak-gerak pamornya mampu menjadikan obor untuk menyalakan  semangat kebangkitan. Jika bukan anak-anak bangsanya sendiri tergerak mengambilnya sebagai api dan lantas membakarnya sebagai fungsi, siapa lagi? Haruskah kesadaran itu lagi-lagi direbut oleh bangsa asing? Mestikah justru kita sendiri, si anak-anak bangsa yang pernah diilhami roh seni yang indah dari leluhurnya, suka rela dan menerima begitu saja, melulu dijadikan konsumen dan penadah, pula menjadikan gagap, lembek dan hilang gagah dalam mencintai bangsanya?


Dwi Klik Santosa

Pondokaren

15 Mei 2014


Selasa, 13 Mei 2014

ELANG-ELANG TERBANG


Bergegas membangun sarang 
sebelum musim penghujan datang. 
Seperti elang-elang terbang 
kita menuju anak-anak kita 
yang berteduh untuk berkembang.  
Membawakan makanan dengan paruh kokoh 
dan pengetahuan yang baik 
dari pengalaman petualangan. 
"Ini Nak, kusuapi kalian. 
Dewasalah menjadi dirimu 
dan berkeinginanlah kelak nanti 
jauh melebihiku."

BEBEK- BEBEK BERENANG



Telur bebek dianggap sebagai sumber makanan yang bermutu tinggi bagi pemenuhan gizi manusia. Sangat masuk akal jika dibandingkan dengan telur ayam yang dihasilkan dari ayam-ayam petelor yang bertelor karena didukung oleh proses kimia.

Sebagaimana sifatnya, genangan air, entah itu sungai, empang atau sawah, adalah habitat dan kegemaran para bebek. Berenang-renang, saling canda dan bernyanyi bersama adalah kebiasaan yang mereka lakukan. Sesekali para hewan unggas ini menyelam untuk menyambari ikan-ikan kecil sebagai santapan alami. Begitupun, mencukil-cukil tanah di pinggiran untuk mendapati cacing-cacing segar. Dan setelah sekian lamanya, merasa puas telah memanja hasrat memenuhi kebutuhan perut dan hati, mencari-cari para betina untuk menemukan si jantan.

“Kwek .. kwek … kweekk .. ayo jantan, sentuh aku. Jangan biarkan rahimku mandul tanpa gairahmu.”

Begitulah. Di tengah arus air yang tenang, seekor bebek jantan menjalankan tugasnya dengan tanpa mengeluh dan sepenuh hati. Menyetubuhi bebek betina puluhan jumlahnya. Dengan gembira dan dengan kehangatan yang luar biasa. Seperti tak kenal lelah. Satu per satu disentuh dan diberi kepuasan dengan kemesraan. 

“Kwek kwek kwek kweeeekkk … Akulah pejantan super. Dan beginilah keseharian hidup sudah menjadi tugasku.”

Sebelum senja, matahari hilang dari pandangan, bebek-bebek keluar dari medan air. Berbaris-baris mereka sambil meneriakkan koor, “kwek .. kwek .. kweeekk” … selekasnya pulang menuju ke kandang. Penggembala yang tenang bergerak-gerak matanya. Menghitungi bebek-bebek piaraannya. Merasa yakin, utuh dan tidak berkurang atau ketinggalan. Digerak-gerakkan  tongkatnya untuk mengarahkan jalan hewan unggas piaraan itu. Memandunya dengan sabar, agar mengikuti langkahnya menuju ke kandang. Rute seperti biasanya, menuju tempat mereka tinggal dan tidur. Dan juga bertelur bagi para bebek betina.

Pagi hari. Setelah utuh matahari nampak di kaki langit. Terdengar riuh para bebek, tatkala terdengar berderit penggembala membuka pintu kandang. Seember bekatul dan potongan-potongan sayuran segar yang dicampur air, itulah sarapan bagi para bebek. Berebutan dengan antusias unggas berparuh panjang itu saling hendak mencapai makanan paginya. Dan di pojok-pojok kandang yang kosong, nampaklah benda-benda lonjong berwarna hijau. Ranum-ranum dan mungil. Bertebaran dan tergeletak begitu saja. Selekasnya dipunguti penggembala untuk dipindahkan ke keranjang.

Telur-telur yang ranum dan bermutu tinggi. Itulah telur-telur yang dihasilkan oleh percintaan para bebek dengan kegembiraan yang luar bisa. Karena dimanja mau dan hasratnya oleh penggembala.  “Air yang lapang adalah habitatku. Maka izinkan kami bercengkrama, mengambili makanan dan bercinta di sana.”


PAHLAWAN BERTOPENG



Masa kecilku di kampung. Suka ikutan ke sawah menggembalakan kerbau milik Mas Mamin. Sesekali kupaksakan manjaku kepada pemuda baik tetanggaku itu agar boleh menaiki kerbau yang digiringnya menuju tengah sawah. Setelah panen dan sebelum kembali ditanami benih padi, lahan adalah media lumpur yang gembur.

Menuju senja, aku yang bocah dari kampung, liar dan dekil, suka terduduk-duduk di galengan sawah, membayangkan tiba-tiba berubah bisa menjadi seorang super jagoan. Seperti halnya pahlawan-pahlawan yang muncul dalam film-film kartun di Tivi. “Akulah pahlawan bertopeng. Dengan kendaraan kerbau sakti yang bisa terbang, akan kudatangi setiap tempat yang berbau angkara dan menindas keadilan.”

Terantuk dan buyar sama sekali lamunanku, tatkala kerbau yang suka berkubang  itu melempar-lemparkan lumpur melalui ekornya nyiprat mengenai mukaku. Dan jika matahari sudah merona merah di ufuk, Mas Amin lekas menggiring kerbaunya untuk dimandikan di muara parit yang dalam dan berair jernih. Digosok-gosoknya kerbau itu dengan ilalang-ilalang segar yang dicabutnya dari pinggir-pinggir galengan. Setelah badan kerbau  bersih dan nampak mengkilat, dibiarkan untuk sesaat hewan gemuk itu berkubang memainkan air. Mas Amin pun beranjak, duduk di galengan yang kering. Selanjutnya, mulai terdengar suara seruling yang empuk dan enak didengar telinga, membahana ruang yang hening. Nada pentatonik yang melagukan tembang Jawa yang melankoli dan melodius seperti irama padang sawah yang memanggil-manggil roh Dewi Sri agar berkenan hadir membagi berkah rezeki. Senja yang magis.

Ketika matahari sudah berpulang ke peraduan dan benar-benar hilang dari pandangan, serta kemudian sudah terdengar suara Adzan dari kejauhan. Kami pun bergegas untuk pulang. Aku yang bocah dan kecil, diizinkan lagi oleh pemuda yang baik tetanggaku itu untuk naik ke punggung kerbaunya. Sembari jalan, Mas Amin meniup lagi serulingnya, seperti memanggili lagi roh Dewa Wisnu agar memberi nuansa damai bagi alam desaku, dan mengiringi lagi sejenak mimpiku yang terputus tentang cita-cita seorang pahlawan bertopeng yang lugu dan berpribadi sahaja tapi bertekad hendak memerangi setiap kejahatan.