Telur bebek dianggap sebagai sumber
makanan yang bermutu tinggi bagi pemenuhan gizi manusia. Sangat masuk akal jika
dibandingkan dengan telur ayam yang dihasilkan dari ayam-ayam petelor yang bertelor
karena didukung oleh proses kimia.
Sebagaimana sifatnya, genangan air, entah itu sungai, empang atau sawah, adalah habitat dan kegemaran para bebek. Berenang-renang, saling canda dan bernyanyi bersama adalah kebiasaan yang mereka lakukan. Sesekali para hewan unggas ini menyelam untuk menyambari ikan-ikan kecil sebagai santapan alami. Begitupun, mencukil-cukil tanah di pinggiran untuk mendapati cacing-cacing segar. Dan setelah sekian lamanya, merasa puas telah memanja hasrat memenuhi kebutuhan perut dan hati, mencari-cari para betina untuk menemukan si jantan.
Sebagaimana sifatnya, genangan air, entah itu sungai, empang atau sawah, adalah habitat dan kegemaran para bebek. Berenang-renang, saling canda dan bernyanyi bersama adalah kebiasaan yang mereka lakukan. Sesekali para hewan unggas ini menyelam untuk menyambari ikan-ikan kecil sebagai santapan alami. Begitupun, mencukil-cukil tanah di pinggiran untuk mendapati cacing-cacing segar. Dan setelah sekian lamanya, merasa puas telah memanja hasrat memenuhi kebutuhan perut dan hati, mencari-cari para betina untuk menemukan si jantan.
“Kwek .. kwek … kweekk .. ayo jantan,
sentuh aku. Jangan biarkan rahimku mandul tanpa gairahmu.”
Begitulah. Di tengah arus air yang
tenang, seekor bebek jantan menjalankan tugasnya dengan tanpa mengeluh dan
sepenuh hati. Menyetubuhi bebek betina puluhan jumlahnya. Dengan gembira dan
dengan kehangatan yang luar biasa. Seperti tak kenal lelah. Satu per satu
disentuh dan diberi kepuasan dengan kemesraan.
“Kwek kwek kwek kweeeekkk … Akulah pejantan
super. Dan beginilah keseharian hidup sudah menjadi tugasku.”
Sebelum senja, matahari hilang dari pandangan, bebek-bebek keluar dari medan air. Berbaris-baris mereka sambil meneriakkan koor, “kwek .. kwek .. kweeekk” … selekasnya pulang menuju ke kandang. Penggembala yang tenang bergerak-gerak matanya. Menghitungi bebek-bebek piaraannya. Merasa yakin, utuh dan tidak berkurang atau ketinggalan. Digerak-gerakkan tongkatnya untuk mengarahkan jalan hewan unggas piaraan itu. Memandunya dengan sabar, agar mengikuti langkahnya menuju ke kandang. Rute seperti biasanya, menuju tempat mereka tinggal dan tidur. Dan juga bertelur bagi para bebek betina.
Sebelum senja, matahari hilang dari pandangan, bebek-bebek keluar dari medan air. Berbaris-baris mereka sambil meneriakkan koor, “kwek .. kwek .. kweeekk” … selekasnya pulang menuju ke kandang. Penggembala yang tenang bergerak-gerak matanya. Menghitungi bebek-bebek piaraannya. Merasa yakin, utuh dan tidak berkurang atau ketinggalan. Digerak-gerakkan tongkatnya untuk mengarahkan jalan hewan unggas piaraan itu. Memandunya dengan sabar, agar mengikuti langkahnya menuju ke kandang. Rute seperti biasanya, menuju tempat mereka tinggal dan tidur. Dan juga bertelur bagi para bebek betina.
Pagi hari. Setelah utuh matahari nampak
di kaki langit. Terdengar riuh para bebek, tatkala terdengar berderit penggembala
membuka pintu kandang. Seember bekatul dan potongan-potongan sayuran segar yang
dicampur air, itulah sarapan bagi para bebek. Berebutan dengan antusias unggas
berparuh panjang itu saling hendak mencapai makanan paginya. Dan di pojok-pojok
kandang yang kosong, nampaklah benda-benda lonjong berwarna hijau. Ranum-ranum
dan mungil. Bertebaran dan tergeletak begitu saja. Selekasnya dipunguti
penggembala untuk dipindahkan ke keranjang.
Telur-telur yang ranum dan bermutu
tinggi. Itulah telur-telur yang dihasilkan oleh percintaan para bebek dengan
kegembiraan yang luar bisa. Karena dimanja mau dan hasratnya oleh penggembala. “Air yang lapang adalah habitatku. Maka
izinkan kami bercengkrama, mengambili makanan dan bercinta di sana.”

Mlipir, Mas Dwi Klik
BalasHapus:)