museum

Kamis, 15 Mei 2014

MENCARI APA DI MUSEUM



Hening dan lengang, dan dipenuhi benda-benda kuno sebagai perbendaharaan koleksi, begitulah suasana museum selepas pandang dinikmati publik. Terhadap keberadaan museum dan kekayaan yang tersimpan di dalamnya, dalam dinamika keseharian Indonesia memiliki kandungan kisahnya tersendiri yang unik. Benda-benda yang bisu dan usang, bukankah begitu koleksi museum itu kerapkali dianggap? Berbagai kalangan, latar belakang, dan tingkat usia, datang dan pergi menjadi pengunjungnya. Tak selalu sama memiliki tujuan dan beda pula motivasi sewaktu mendatanginya. Bahkan menjadikan catatan yang aktual dan penting jika harus ditelaah lebih jauh untuk mendapatkan keterangan menyoal esensi : mencari apa sebenarnya di museum?  

Mata yang menatap, sejenak dan sekilas saja. Seperlunya dan secepat itu ruang demi ruang dijelajahi. Sesekali ada yang matanya melotot demi menemukan obyek yang sekiranya menarik perhatian, namun toh, tak cukup ketertarikan itu menumbuhkan minat untuk ingin tahu lebih banyak, kenapa dan ada apa, hingga benda itu mengusik perhatian.  Bahkan abai saja sikapnya, tak menimbulkan keinginan membaca secara serius dan teliti keterangan yang tertempel. Bukankah dari data tersebut setidaknya memberikan pengetahuan tentang latar belakang dan keberadaan benda itu. Pun tak pula antuasiasme itu timbul hingga menggerakkan niatnya mencari petugas museum, sekedar untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan terhadap apa yang menjadikan ihwal ketertarikan itu.

Entahlah, bagi yang tak cukup memiliki bekal untuk mencari atau hendak menemukan sesuatu, barangkali kehadiran seseorang ke museum bisa jadi iseng belaka atau sekedarnya untuk mengisi waktu. Dengan melihat-lihat benda-benda aneh yang tak diketemukan aneka bentuk dan wujudnya dan seusang itu pernah dijumpainya di keseharian, siapa tahu akan menemukan kawan senasib, yang kebetulan bertemu pada waktu yang sama di tempat itu, siapa tahu pula berjodoh untuk sekedar sama-sama mencairkan galau. Atau jangan-jangan justru terdorong oleh keterpaksaan, hanya karena sebuah tugas tertentu yang diharuskan oleh gurunya di sekolah. Jika tak membuat laporan berupa resume atau catatan singkat tentang pengalaman pernah mendatangi museum, maka tak akan mendapatkan nilai plus. Pun sebuah pameo yang masih saja dipercayai sementara orang, bahwa jika belum mengunjungi sebuah museum, katanya, belum lengkap  rasanya menjadikan kisah hebat dalam sebuah catatan biografi perjalanan hidup. Maka, berposelah kemudian dengan gaya yang sebagus mungkin menurutkan selera masing-masing untuk diabadikan ke dalam gambar-gambar foto. Dengan foto-foto yang berlatar belakang tempat dan benda-benda unik museum, setidaknya akan menjadi bukti yang autentik dan menghidupkan klaim atau pengakuan atas pengalaman hidup yang pernah dijalani.

Museum adalah tempat yang menyimpan benda-benda bersejarah. Museum adalah cermin untuk melihat tingkat peradaban sebuah bangsa. Apa yang terdapat dan menjadi isi sebagai koleksi museum bisa saja ditandai sebagai bukti tentang adanya nilai-nilai yang membentuk citra. Bahwa sebuah bangsa yang memiliki banyak produk dan tercermin dari benda-benda yang terpajang, bisa dimaknakan bangsa tersebut memiliki kemegahan yang tersendiri. Yaitu bangsa kreatif dan bangsa yang memiliki peradaban yang unggul. Halusnya ukiran atau sentuhan seni yang membentuk wujud-wujudnya sebagai relief candi, prasasti, arca, perhiasan, busana, perabotan, wayang, topeng, lukisan, alat-alat musik, kitab-kitab sastra dan kelengkapan hidup lainnya yang menjadikan obyek dan tertandakan dalam catatan sejarah berasal dari abad-abad lalu, seperti pula kesatuan yang membuktikan citra, rasa dan halusnya budi nenek moyang dari zaman lampau. Seni adalah hiburan batin. Namun bisa juga seni dimaknakan alat bantu atau sarana untuk menghaluskan budi pekerti. Maka si seniman yang berkarya dan membuat keindahan itu, bisa disebutkan memiliki keagungannya yang tersendiri. Jika sebuah bangsa memiliki banyak produk kreasi yang indah dan berbobot seni, maka tak ayal bangsa tersebut adalah bangsa besar.

Benda-benda yang terdapat dalam museum adalah bukti-bukti dari jejak-jejak sejarah yang berkandung pula unsur mitologi sebagai kisah-kisah tahyul dahulu kala dan adanya dalam perwujudan tertentu bahkan diyakini sebagai inisiasi.  Dari zaman ke zaman, terlahir sebagai dongeng dan diyakini mengandung filosofi yang tinggi ikut membentuk pola pikir masyarakatnya. Senada dengan apa yang dituliskan bapak bangsa Indonesia, Mohammad Hatta, dalam sebuah karya buku “Alam Pikiran Yunani”, bahwa dongeng atau tahyul yang dipusakakan dari nenek moyang itu menimbulkan adat dan kebiasaan hidup, yang menjadi cermin  jiwa bangsa yang memakainya. Di mata orang Yunani pada zaman lampau, satu pokok yang ingin diyakini sebagai cara mengungkapkan sebuah kebenaran adalah “philosophia” yang berarti cinta akan pengetahuan.

Pun, sebagaimana ditulis dalam buku, “Jurnal Penyair - Rendra”, penyair besar bangsa Indonesia, WS. Rendra, dalam catatan perjalanannya berpentas membacakan sajak-sajaknya di kota-kota besar Eropa, Afrika, Asia, Amerika dan Australia, selalu menyempatkan  diri untuk singgah dan mengunjungi museum di kota setempat.

”Museum itu memegang peranan penting dalam merumuskan hubungan antar manusia,” begitu kata Rendra, “bagi saya museum berusaha menjawab pertanyaan: Siapakah aku ini dalam hubungannya dengan orang lain? Tidak semata-mata hanya menjawab pertanyaan siapakah aku dalam hubungannya dengan alam semata? Jelas bahwa pengaruh antropologi dan psikologi sangat menonjol di dalam cara pendekatan dan penilaian terhadap benda-benda di museum.”

Di museum, jelas terdapat bahan-bahan yang dibutuhkan seorang seniman sebagai ide dari bakal karyanya. Sebuah pengetahuan yang mahal dan penting untuk kemudian menjadikan lagi karya baru yang adicipta. Tidak saja, unsur-unsur pisik benda yang terpajang sebagai benda koleksi, namun juga unsur-unsur yang melatari benda tersebut tercipta. Sistem kehidupan, suasana dan banyak nuansa yang bisa digali sebagai cara untuk memahami keadaan sosial dan budaya pada waktu benda itu dicipta. Dengan begitu, sekali lagi menunjukkan kejelasan, bahwa dari mengamati dan meneliti sebaik-baiknya benda-benda koleksi museum, seorang kreator akan menemukan pengetahuan yang tak terhingga dan tak ternilai harganya. Yang sangat diperlukan bahan-bahan itu sebagai caranya mengaktualisasi ide-ide itu untuk menjilmakan karya-karya seni bermutu tinggi yang akan menandai ada dan hadirnya di kekinian zaman periode hidupnya.

Bagi bangsa Indonesia yang laju pertumbuhan dan perkembangan sosial dan budayanya beriringan dengan derak globalisasi, tak dipungkiri bahwa enkulturasi bangsa asing telah jauh menjadikan dilema dan friksi-friksi yang tajam di tengah masyarakatnya. Pola dan perilaku yang konsumtif cenderung bergerak mendekati kamuflase dalam konsep modernitas. Etos dan elan mencipta yang diwariskan oleh leluhurnya, seperti aus dihembus angin global. Begitu jelas, kecenderungan publik kita kiranya, menunjukkan minat dan ketertarikan yang begitu besar terhadap apa saja berbau luar negeri. Padahal jika harus disimak dan dinilaikan, betapa indah dan hebat, apa saja benda-benda produksi nusantara kita, jelas terlihat di setiap museum yang terdapat di seantero kota di Indonesia. Begitupun, lebih dari 140.000 benda koleksi Museum Nasional Republik Indonesia, museum kebanggaan kita yang terdapat di ibukota, takkah menunjukkan benda-benda masa lalu itu sebagai karya-karya kreasi yang unggul, impresif dan mengagumkan mewakili zamannya?

Sudah semestinya pula, Museum Nasional Republik Indonesia, begitupun museum-museum lainnya yang tersebar itu di kota-kota besar Indonesia itu dijadikan laboratorium aktif bagi para intelektual bangsa – para pelajar dan mahasiswa --  untuk menemukan data-data penting dan berguna bagi perkembangan penelitian karya ilmiahnya. Ide-ide cemerlang hasil dari menyerap kandungan materinya niscaya menjadikan sumbangsih pemikiran bagi bangsa untuk tumbuh dan bergerak mengindahkan dinamika di kancah universal.

Sehingga senada dan senafas dengan kredo Rendra, bahwa, ” kisah masa lampau adalah api masa kini”, maka di dalam kelengangan museum yang menyimpan benda-benda bisu dari masa lampau itu, jika sebaik-baiknya digali dan diambil saripatinya sebagai inti, niscaya akan menerbitkan gairah untuk bangkit, berdaya dan unggul karena mampu mencipta sendiri dan berdikari. Ide dan gagasan yang orisinil milik bangsa sendiri dan dikaryakan kembali dalam keindahan seni budaya dan karya-karya modern yang berasal dan berakar dari adicipta leluhur dan nenek moyang kita, bukankah ini tantangan? Memang benar, bahwa benda-benda itu bisu, kusam dan kuno, namun oleh penglihatan dan pembacaan seorang kreator yang awas dan bijak, niscaya akan bergerak-gerak pamornya mampu menjadikan obor untuk menyalakan  semangat kebangkitan. Jika bukan anak-anak bangsanya sendiri tergerak mengambilnya sebagai api dan lantas membakarnya sebagai fungsi, siapa lagi? Haruskah kesadaran itu lagi-lagi direbut oleh bangsa asing? Mestikah justru kita sendiri, si anak-anak bangsa yang pernah diilhami roh seni yang indah dari leluhurnya, suka rela dan menerima begitu saja, melulu dijadikan konsumen dan penadah, pula menjadikan gagap, lembek dan hilang gagah dalam mencintai bangsanya?


Dwi Klik Santosa

Pondokaren

15 Mei 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar