Hening dan lengang, dan
dipenuhi benda-benda kuno sebagai perbendaharaan koleksi, begitulah suasana museum selepas pandang dinikmati publik. Terhadap keberadaan museum dan kekayaan yang tersimpan
di dalamnya, dalam dinamika keseharian Indonesia memiliki kandungan kisahnya tersendiri yang unik. Benda-benda yang
bisu dan usang, bukankah begitu koleksi museum itu kerapkali dianggap? Berbagai kalangan, latar belakang, dan tingkat usia,
datang dan pergi menjadi pengunjungnya. Tak selalu sama memiliki tujuan dan beda pula motivasi sewaktu mendatanginya. Bahkan menjadikan catatan yang aktual dan
penting jika harus ditelaah lebih jauh untuk mendapatkan keterangan menyoal esensi : mencari apa sebenarnya di museum?
Mata yang menatap, sejenak dan
sekilas saja. Seperlunya dan secepat itu ruang demi ruang dijelajahi. Sesekali ada
yang matanya melotot demi menemukan obyek yang sekiranya menarik perhatian,
namun toh, tak cukup ketertarikan itu menumbuhkan minat untuk ingin tahu lebih banyak, kenapa dan ada apa, hingga benda itu mengusik
perhatian. Bahkan abai
saja sikapnya, tak menimbulkan keinginan membaca secara serius dan teliti keterangan yang tertempel. Bukankah dari data tersebut setidaknya memberikan pengetahuan tentang latar belakang dan keberadaan benda itu. Pun
tak pula antuasiasme itu timbul hingga menggerakkan niatnya mencari
petugas museum, sekedar untuk bertanya dan mendapatkan penjelasan terhadap apa
yang menjadikan ihwal ketertarikan itu.
Entahlah, bagi yang tak cukup
memiliki bekal untuk mencari atau hendak menemukan sesuatu, barangkali kehadiran
seseorang ke museum bisa jadi iseng belaka atau sekedarnya untuk mengisi waktu. Dengan melihat-lihat benda-benda aneh yang tak diketemukan aneka
bentuk dan wujudnya dan seusang itu pernah dijumpainya di keseharian, siapa tahu akan menemukan kawan senasib, yang kebetulan bertemu pada waktu yang sama di
tempat itu, siapa tahu pula berjodoh untuk sekedar sama-sama mencairkan galau. Atau
jangan-jangan justru terdorong oleh keterpaksaan, hanya karena sebuah tugas
tertentu yang diharuskan oleh gurunya di sekolah. Jika tak membuat laporan
berupa resume atau catatan singkat tentang pengalaman pernah mendatangi museum,
maka tak akan mendapatkan nilai plus. Pun sebuah pameo yang masih saja dipercayai
sementara orang, bahwa jika belum mengunjungi sebuah museum, katanya, belum
lengkap rasanya menjadikan kisah hebat dalam sebuah catatan biografi perjalanan hidup. Maka, berposelah kemudian dengan gaya yang sebagus mungkin menurutkan selera masing-masing untuk diabadikan ke dalam gambar-gambar foto. Dengan foto-foto yang berlatar
belakang tempat dan benda-benda unik museum, setidaknya akan menjadi bukti yang autentik dan menghidupkan klaim atau pengakuan atas pengalaman hidup yang pernah dijalani.
Museum adalah tempat yang menyimpan
benda-benda bersejarah. Museum adalah cermin untuk melihat tingkat peradaban
sebuah bangsa. Apa yang terdapat dan menjadi isi sebagai koleksi museum bisa
saja ditandai sebagai bukti tentang adanya nilai-nilai yang membentuk citra.
Bahwa sebuah bangsa yang memiliki banyak produk dan tercermin dari benda-benda
yang terpajang, bisa dimaknakan bangsa tersebut memiliki kemegahan yang
tersendiri. Yaitu bangsa kreatif dan bangsa yang memiliki peradaban yang
unggul. Halusnya ukiran atau sentuhan seni yang membentuk wujud-wujudnya
sebagai relief candi, prasasti, arca, perhiasan, busana, perabotan, wayang, topeng, lukisan, alat-alat musik, kitab-kitab sastra dan
kelengkapan hidup lainnya yang menjadikan obyek dan tertandakan dalam catatan sejarah berasal dari abad-abad lalu, seperti pula kesatuan yang membuktikan citra, rasa dan halusnya
budi nenek moyang dari zaman lampau. Seni adalah hiburan batin. Namun bisa
juga seni dimaknakan alat bantu atau sarana untuk menghaluskan budi pekerti. Maka si seniman
yang berkarya dan membuat keindahan itu, bisa disebutkan memiliki keagungannya
yang tersendiri. Jika sebuah bangsa memiliki banyak produk kreasi yang indah
dan berbobot seni, maka tak ayal bangsa tersebut adalah bangsa besar.
Benda-benda yang terdapat dalam
museum adalah bukti-bukti dari jejak-jejak sejarah yang berkandung pula unsur mitologi sebagai kisah-kisah tahyul dahulu kala dan adanya dalam perwujudan tertentu bahkan diyakini sebagai inisiasi. Dari zaman ke zaman, terlahir
sebagai dongeng dan diyakini mengandung filosofi yang tinggi ikut membentuk pola pikir
masyarakatnya. Senada dengan apa yang dituliskan bapak bangsa Indonesia,
Mohammad Hatta, dalam sebuah karya buku “Alam Pikiran Yunani”, bahwa dongeng
atau tahyul yang dipusakakan dari nenek moyang itu menimbulkan adat dan
kebiasaan hidup, yang menjadi cermin
jiwa bangsa yang memakainya. Di mata orang Yunani pada zaman lampau,
satu pokok yang ingin diyakini sebagai cara mengungkapkan sebuah kebenaran
adalah “philosophia” yang berarti cinta akan pengetahuan.
Pun, sebagaimana ditulis dalam
buku, “Jurnal Penyair - Rendra”, penyair besar bangsa Indonesia, WS. Rendra,
dalam catatan perjalanannya berpentas membacakan sajak-sajaknya di kota-kota
besar Eropa, Afrika, Asia, Amerika dan Australia, selalu menyempatkan diri untuk singgah dan mengunjungi museum di
kota setempat.
”Museum
itu memegang peranan penting dalam merumuskan hubungan antar manusia,” begitu
kata Rendra, “bagi saya museum berusaha
menjawab pertanyaan: Siapakah aku ini dalam hubungannya dengan orang lain?
Tidak semata-mata hanya menjawab pertanyaan siapakah aku dalam hubungannya
dengan alam semata? Jelas bahwa pengaruh antropologi
dan psikologi sangat menonjol di dalam cara pendekatan dan penilaian terhadap
benda-benda di museum.”
Di museum, jelas terdapat bahan-bahan yang dibutuhkan seorang seniman sebagai ide dari bakal karyanya. Sebuah
pengetahuan yang mahal dan penting untuk kemudian menjadikan lagi karya baru
yang adicipta. Tidak saja, unsur-unsur pisik benda yang terpajang sebagai benda
koleksi, namun juga unsur-unsur yang melatari benda tersebut tercipta. Sistem
kehidupan, suasana dan banyak nuansa yang bisa digali sebagai cara untuk
memahami keadaan sosial dan budaya pada waktu benda itu dicipta. Dengan begitu,
sekali lagi menunjukkan kejelasan, bahwa dari mengamati dan meneliti
sebaik-baiknya benda-benda koleksi museum, seorang kreator akan menemukan
pengetahuan yang tak terhingga dan tak ternilai harganya. Yang sangat diperlukan
bahan-bahan itu sebagai caranya mengaktualisasi ide-ide itu untuk menjilmakan
karya-karya seni bermutu tinggi yang akan menandai ada dan hadirnya di kekinian zaman periode hidupnya.
Bagi bangsa Indonesia yang laju pertumbuhan dan
perkembangan sosial dan budayanya beriringan dengan derak globalisasi, tak
dipungkiri bahwa enkulturasi bangsa asing telah jauh menjadikan dilema dan
friksi-friksi yang tajam di tengah masyarakatnya. Pola dan perilaku yang
konsumtif cenderung bergerak mendekati kamuflase dalam konsep modernitas. Etos
dan elan mencipta yang diwariskan oleh leluhurnya, seperti aus dihembus angin global. Begitu jelas, kecenderungan publik kita kiranya, menunjukkan minat dan ketertarikan yang begitu besar terhadap apa saja berbau luar negeri.
Padahal jika harus disimak dan dinilaikan, betapa indah dan hebat, apa saja
benda-benda produksi nusantara kita, jelas terlihat di setiap museum yang
terdapat di seantero kota di Indonesia. Begitupun, lebih dari 140.000 benda koleksi
Museum Nasional Republik Indonesia, museum kebanggaan kita yang terdapat di
ibukota, takkah menunjukkan benda-benda masa lalu itu sebagai karya-karya
kreasi yang unggul, impresif dan mengagumkan mewakili zamannya?
Sudah semestinya pula, Museum Nasional Republik
Indonesia, begitupun museum-museum lainnya yang tersebar itu di kota-kota besar
Indonesia itu dijadikan laboratorium aktif bagi para intelektual bangsa – para
pelajar dan mahasiswa -- untuk menemukan data-data penting dan berguna bagi perkembangan penelitian karya ilmiahnya. Ide-ide cemerlang hasil dari menyerap kandungan materinya niscaya menjadikan
sumbangsih pemikiran bagi bangsa untuk tumbuh dan bergerak mengindahkan
dinamika di kancah universal.
Sehingga senada dan senafas dengan kredo Rendra,
bahwa, ” kisah masa lampau adalah api masa kini”, maka di dalam kelengangan museum
yang menyimpan benda-benda bisu dari masa lampau itu, jika
sebaik-baiknya digali dan diambil saripatinya sebagai inti, niscaya akan menerbitkan
gairah untuk bangkit, berdaya dan unggul karena
mampu mencipta sendiri dan berdikari. Ide dan gagasan yang orisinil milik
bangsa sendiri dan dikaryakan kembali dalam keindahan seni budaya dan
karya-karya modern yang berasal dan berakar dari adicipta leluhur dan nenek
moyang kita, bukankah ini tantangan? Memang benar, bahwa benda-benda itu bisu,
kusam dan kuno, namun oleh penglihatan dan pembacaan seorang kreator yang awas
dan bijak, niscaya akan bergerak-gerak pamornya mampu menjadikan obor untuk
menyalakan semangat kebangkitan. Jika
bukan anak-anak bangsanya sendiri tergerak mengambilnya sebagai api dan lantas
membakarnya sebagai fungsi, siapa lagi? Haruskah kesadaran itu lagi-lagi direbut
oleh bangsa asing? Mestikah justru kita sendiri, si anak-anak bangsa yang
pernah diilhami roh seni yang indah dari leluhurnya, suka rela dan menerima
begitu saja, melulu dijadikan konsumen dan penadah, pula menjadikan gagap, lembek dan
hilang gagah dalam mencintai bangsanya?
Dwi Klik Santosa
Pondokaren
15 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar