Masa kecilku di kampung. Suka ikutan ke
sawah menggembalakan kerbau milik Mas Mamin. Sesekali kupaksakan manjaku kepada
pemuda baik tetanggaku itu agar boleh menaiki kerbau yang digiringnya menuju
tengah sawah. Setelah panen dan sebelum kembali ditanami benih padi, lahan
adalah media lumpur yang gembur.
Menuju senja, aku yang bocah dari
kampung, liar dan dekil, suka terduduk-duduk di galengan sawah, membayangkan
tiba-tiba berubah bisa menjadi seorang super jagoan. Seperti halnya
pahlawan-pahlawan yang muncul dalam film-film kartun di Tivi. “Akulah pahlawan
bertopeng. Dengan kendaraan kerbau sakti yang bisa terbang, akan kudatangi
setiap tempat yang berbau angkara dan menindas keadilan.”
Terantuk dan buyar sama sekali lamunanku, tatkala kerbau yang suka berkubang itu melempar-lemparkan lumpur melalui ekornya nyiprat mengenai mukaku. Dan jika matahari sudah merona merah di ufuk, Mas Amin lekas menggiring kerbaunya untuk dimandikan di muara parit yang dalam dan berair jernih. Digosok-gosoknya kerbau itu dengan ilalang-ilalang segar yang dicabutnya dari pinggir-pinggir galengan. Setelah badan kerbau bersih dan nampak mengkilat, dibiarkan untuk sesaat hewan gemuk itu berkubang memainkan air. Mas Amin pun beranjak, duduk di galengan yang kering. Selanjutnya, mulai terdengar suara seruling yang empuk dan enak didengar telinga, membahana ruang yang hening. Nada pentatonik yang melagukan tembang Jawa yang melankoli dan melodius seperti irama padang sawah yang memanggil-manggil roh Dewi Sri agar berkenan hadir membagi berkah rezeki. Senja yang magis.
Ketika matahari sudah berpulang ke peraduan dan benar-benar hilang dari pandangan, serta kemudian sudah terdengar suara Adzan dari kejauhan. Kami pun bergegas untuk pulang. Aku yang bocah dan kecil, diizinkan lagi oleh pemuda yang baik tetanggaku itu untuk naik ke punggung kerbaunya. Sembari jalan, Mas Amin meniup lagi serulingnya, seperti memanggili lagi roh Dewa Wisnu agar memberi nuansa damai bagi alam desaku, dan mengiringi lagi sejenak mimpiku yang terputus tentang cita-cita seorang pahlawan bertopeng yang lugu dan berpribadi sahaja tapi bertekad hendak memerangi setiap kejahatan.
Terantuk dan buyar sama sekali lamunanku, tatkala kerbau yang suka berkubang itu melempar-lemparkan lumpur melalui ekornya nyiprat mengenai mukaku. Dan jika matahari sudah merona merah di ufuk, Mas Amin lekas menggiring kerbaunya untuk dimandikan di muara parit yang dalam dan berair jernih. Digosok-gosoknya kerbau itu dengan ilalang-ilalang segar yang dicabutnya dari pinggir-pinggir galengan. Setelah badan kerbau bersih dan nampak mengkilat, dibiarkan untuk sesaat hewan gemuk itu berkubang memainkan air. Mas Amin pun beranjak, duduk di galengan yang kering. Selanjutnya, mulai terdengar suara seruling yang empuk dan enak didengar telinga, membahana ruang yang hening. Nada pentatonik yang melagukan tembang Jawa yang melankoli dan melodius seperti irama padang sawah yang memanggil-manggil roh Dewi Sri agar berkenan hadir membagi berkah rezeki. Senja yang magis.
Ketika matahari sudah berpulang ke peraduan dan benar-benar hilang dari pandangan, serta kemudian sudah terdengar suara Adzan dari kejauhan. Kami pun bergegas untuk pulang. Aku yang bocah dan kecil, diizinkan lagi oleh pemuda yang baik tetanggaku itu untuk naik ke punggung kerbaunya. Sembari jalan, Mas Amin meniup lagi serulingnya, seperti memanggili lagi roh Dewa Wisnu agar memberi nuansa damai bagi alam desaku, dan mengiringi lagi sejenak mimpiku yang terputus tentang cita-cita seorang pahlawan bertopeng yang lugu dan berpribadi sahaja tapi bertekad hendak memerangi setiap kejahatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar